Selasa, 18 Desember 2012

Festival Film Dokumenter Internasional 2012

“Permata di Tengah Danau” Tampil Menjadi yang Terbaik

VOA/"PRLM"
VOA/"PRLM"
ANDY Hutagalung (paling kanan), meraih penghargaan utama Festival FIlm Dokumenter Internasional 2012 dengan karyanya "Permata di Tengah Danau”.*
JAKARTA, (PRLM).- Dua film dokumenter karya sineas muda terbaik bertema pendidikan dan lingkungan hidup di dua wilayah di Sumatera raih penghargaan bergengsi dalam Festival Film Dokumenter Internasional 2012. Malam pemberian penghargaan berlangsung di Pusat Kebudayaan Kerajaan Belanda, Erasmus Huis Jakarta.
Direktur Festival Film Dokumenter Internasional 2012 , Patar Simatupang mengatakan, festival kali ini merupakan penyelenggaraan tahun kedua, diikuti lebih dari seratus judul film karya para sineas muda di tanah air.
“Tujuan kami yaitu, film-film dokumenter Indonesia bisa tampil di festival-festival film dunia,tahun 2012 ini pemenang festival ini pernah ikut dalam Festival Film Indonesia (FFI), festival dokumenter Bali, Bandung dan Yogyakarta juga ikut, jadi lebih sulit mencari pemenangnya,” kataPatar Simatupang.
Karya Cineas muda Andy Hutagalung asal Medan dengan film berjudul “Permata di Tengah Danau” keluar sebagai pemenang utama. “Perhargaan ini, dedikasi (saya) kepada masyarakat Samosir, anak-anak Samosir yang cerdas dengan mengkonsumsi susu kerbaunya setiap hari. Ke depan tugas kita ditanah air mempublikasikan karya dokumenter ini kepada warga di daerah yang memang mereka belum mengerti film dokumnter itu seperti apa?” ungkap Andy Hutagalung.
Permata di Tengah Danau, film dokumenter berdurasi 20 menit, mengisahkan sukarelawan guru yang mendirikan sanggar belajar “Sopo Belajar” dan mengabadikan kehidupan masyarakat , terutama peran sanggar bagi anak-anak usia sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Pulau Samosir.
Pendirian sanggar ini bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi anak-anak usia sekolah dasar di desa agar memiliki akses lebih besar terhadap informasi , ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Sophia Pakpahan salah seorang anak yang ikut aktif dalam sanggar “Sopo Belajar”, Samosir . Dalam film dokumenter tersebut Sophia mengisahkan tentang beberapa hal yang membuat warga Samosir bersemangat untuk bangkit, terutama dalam penyelamatan masa depan Danau Toba dan masa depan pendidikan anak-anak Pulau Samosir, Sumatera Utara .
“Orang-orang membuang sampah ke danau Toba, sehingga danau tidak indah dan tdak enak dipandang mata. Seharusnya orang menjaga, merawat dan melestarikannya,” kata Sophia.
Karya dokumenter terbaik pilihan penonton berjudul “Pulo Aceh: Surga Yang Terabaikan" karya RA Karamullah (22) , cineas muda asal Aceh. “Film dokumenter ini dirampungkan sekitar dua tahun. Di Aceh, banyak objek wisata yang menarik jika dikelola, terutama wisata bahari, pantai, ikan dan terumbu karang yang mulai pulih setelah tsunami,” demikian papar RA Karamullah.
Menurut Karamullah, akses transportasi dan beberapa infrastruktur penting bagi masa depan pembangunan di Pulau Aceh masih minim dan perlu mendapat perhatian pemeritah pusat dan daerah.
Sementara, Deirdre Tenawin (22) salah saeorang Cineas muda dari Universitas Multimedia Nusantara Jakarta mendapat penghargaan dengan karya dokumenternya berjudul, “Sarjana Aspal (Asli Palsu).”
“Kalau kita lihat ijazah palsu sesuatu yang ilegal, tetapi iklannya itu beredar di internet dengan sangat banyak, seandainya pihak aparat mau itukan hal yang mudah untuk melacaknya,” ungkap Deirdre Tenawin.
Deirdre salah seorang pemang favorit. Beberapa penonton yang menyaksikan penanyangan film dokumenter mengatakan festival karya dokumenter agar diperbanyak frekuensinya.
Pemenang utama festival meraih piala dan piagam serta dana pembinaan dengan total mencapai Rp 150 juta , termasuk beberapa pemenang lainnya , terdiri dari 5 (lima) kategori karya favorit , serta pemenang dengan karya terbaik pilihan penonton.
Selain memperlombakan karya cineas muda Indonesia, selama hampir sepekan festival 25-29 September 2012 , penyelenggaran festival juga menanyangkan film-film karya cineas Amerika Serikat, karya film dokumenter AS mendominasi festival.
Film-film dokumenter karya Festival Film Dokumenter Internasional di Jakarta tahun ini, didukung penuh oleh sejumlah perusahaan media,Perhimpunan Koresponden Media Asing Jakarta (Jakarta Foreign Correspondent Club-JFCC), pihak swasta dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia.
International Documentary Film Festival II Jakarta, menghadirkan juri yang terdiri dari para pakar dan cineas dalam danluar negeri. Beberapa cineas sejumlah negara juga menajdi instruktur kegiatan pelatihan selama tiga belas hari bagi kaum muda pencinta film di tanah air. (voa/A-147)***

Sabtu, 15 Desember 2012


SEMINAR PUBLIK PERINGATAN HARI PAHLAWAN

BPK Oi MEDAN & HMJ IKS FISIP UMSU PADA HARI JUMAT 30 NOPEMBER 2012 YANG DIDUKUNG OLEH MEDIA IDENTITAS

Jumat, 14 Desember 2012

Tribun Medan


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 




Piala Maya 2012 Tidak Hanya Nilai Teknis
Tribun Medan - Jumat, 14 Desember 2012 23:10 WIB

Laporan Wartawan Tribun Medan/Liston Damanik

TRIBUN-MEDAN.com-MEDAN
-Sineas Sumatera Utara Andi Hutagalung menilai Piala Maya lebih baik dibandingkan Festifal Film Indonesia.
Film Andi, Permata di Tengah Danau bersaing dalam ajang Piala Maya 2012.
Ini merupakan kesempatan ketiga film tersebut mendapatkan penghargaan prestisius dalam tahun ini setelah sebelumnya menjadi jawara di Festival Film Dokumenter Bali dan Festival Film Dokumenter Internasional.
Walaupun bersaing ketat, Piala Maya 2012 membersitkan harapan bagi dirinya karena tidak hanya menilai film dari segi teknis.
“Konten juga diutamakan. Kalau hanya dari segi teknis seperti di Festival Film Indonesia, kami pasti tertinggal karena membuat film dengan peralatan seadanya,” ujarnya saat dihubungi Tribun, Jumat (14/12/2012) .
Galung enggan menilai kans filmnya menjuarai salah satu kategori di ajang yang disebut-sebut sebagai Golden Globe-nya Indonesia itu. Pengumuman pemenang rencananya berlangsung Sabtu (14/12/2012) besok di SAE Institut, FX Jakarta.
"Aku serahkan ke juri sajalah. Persaingannya ketat," kata pria yang akrab dipanggil Galung itu sambil tertawa. 
Film Permata di Tengah Danau bersaing dengan enam film dokumenter lainnya.
Berbeda dengan ajang lainnya, Piala Maya melibatkan seratus juri dari berbagai latar belakang untuk penilaiannya.
Film Permata di Tengah Danau sendiri mengangkat kisah anak-anak di Pulau Samosir yang serba minim fasilitas belajar namun mampu kritis melihat situasi lingkungannya karena dibimbing para aktivis lingkungan di Sopo Belajar.


(ton/tribun-medan.com)

Penulis : Liston Damanik
Editor : Silfa Humairah
Sumber : Tribun Medan
Tribunnews.com

Film Andi Hutagalung Bersaing Ketat di Piala Maya 2012

Jumat, 14 Desember 2012 14:56 WIB
Laporan Wartawan Tribun Medan/Liston Damanik

TRIBUN-MEDAN.com-MEDAN
- Film dokumenter karya sineas Sumatera Utara Andi Hutagalung, Permata di Tengah Danau bersaing dalam ajang Piala Maya 2012.

Ini merupakan kesempatan ketiga film tersebut mendapatkan penghargaan prestisius dalam tahun ini setelah sebelumnya menjadi jawara di Festival Film Dokumenter Bali dan Festival Film Dokumenter Internasional.

Andi Hutagalung yang dihubungi Tribun, Jumat (14/12/2012) enggan menilai kans filmnya menjuarai salah satu kategori di ajang yang disebut-sebut sebagai Golden Globe-nya Indonesia itu. Pengumuman pemenang rencananya berlangsung Sabtu (14/12/2012) besok di SAE Institut, FX Jakarta.

"Aku serahkan ke juri sajalah. Persaingannya ketat," kata pria yang akrab dipanggil Galung itu sambil tertawa. 

Film Permata di Tengah Danau bersaing dengan enam film dokumenter lainnya seperti Merajut Bambu 1000 Candi untuk Kemanusiaan, Cerita dari Tapal Batas, dan Negeri di Bawah Kabut karya Shalahudin Siregar yang Agustus lalu diputar pada Toronto International Film Festival.

Berbeda dengan ajang lainnya, Piala Maya melibatkan seratus juri dari berbagai latar belakang untuk penilaiannya.

Galung mengatakan, dirinya telah menyaksikan kandidat-kandidat lainnya dan mengaku sangat terkesan.

Film Permata di Tengah Danau sendiri mengangkat kisah anak-anak di Pulau Samosir yang serba minim fasilitas belajar namun mampu kritis melihat situasi lingkungannya karena dibimbing para aktivis lingkungan di Sopo Belajar. (ton/tribun-medan.com)

Penulis : Liston Damanik
Editor : Muhammad Tazli
Source : Tribun Medan
Share on Facebook

Senin, 10 Desember 2012

piala maya Zoom In

PIALA MAYA 2012

Back to Overview

10th December 2012
RUNDOWN PENAYANGAN FILM PENDEK DAN DOKUMENTER PIALA MAYA 2012
Selasa, 11 Desember 2012 
15.00 - 17.00 | Workshop Penulisan Skenario Film & Plot Point | Haqi Achmad (Penulis)
18.30 – 19.00 | HIBURAN | PENAMPILAN SOLOIS
19.00 – 21. 00 | Pemutaran Film Biskop | RAYYA CAHAYA Di Atas Cahaya
Rabu, 12 Desember 2012
15.00 – 18.00 | Pemutaran Film Dokumenter & Pemutaran Film Bioskop
  • BURUH SENI
  • PERMATA DI TENGAH DANAU
  • MERAJUT BAMBU SERIBU CANDI UNTUK KEMANUSIAAN
  • JAKARTARCK
18.30 – 19.00 PENAMPILAN AKUSTIK 
19.00 – 21.00 | Pemutaran Film Bioskop | PARTS OF THE HEART
Kamis, 13 Desember 2012
15.00 - 17.00 Pemutaran Nominasi Film Animasi
  • KITIK
  • KERIPIK SUKUN MBOK DARMI
  • CULOBOYO MEKITIK
  • KRAYON
Pemutaran Nominasi Film Fiksi Panjang
17.00 - 19.00 | CITA – CITAKU SETINGGI TANAH
19.00 – 21.00 | LOVELY MAN
Info lebih lanjut PialaMaya.com

Languages:

Location: Jakarta

SAE Institute Jakarta
fX lifestyle X'nter, f6
Jl. Jenderal Sudirman
Pintu Satu Senayan
Jakarta 10270 Indonesia
Tel. +6221 2555 4540
Fax. +6221 2555 4539
eMail: jakarta@sae.edu
How To Find Us
Local Time: 19:56:45

Select your SAE Institute

Senin, 03 Desember 2012

Permata Di Tengah Danau— Sebuah Kisah dari huta Lontung, Pulo Samosir

oleh Parturi Batak Pos pada 30 November 2012 pukul 11:44 ·
...
Sungguh miris dan sangat memprihatinkan. Ketertinggalan pendidikan di huta Lontung ini sangat jauh terbelakang. Anak-anak yang masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) akhirnya tidak mempunyai wawasan luas tentang Iptek. Komputer dan aplikasi-aplikasi internet yang saat ini sudah biasa kita lihat dan kita digunakan, bagi anak-anak di huta Lontung, jangankan untuk mampu mengoperasikannya bahkan melihatpun jarang. Apakah keadaan yang seperti itu akan tetap berlanjut di huta Lontung-Pulo Samosir? Membiarkan anak-anak tetap mengikuti cara pikir orangtua mereka yang tidak mengerti Iptek, sehingga membuat anak-anak tetap berada pada ketertinggalan pendidikan, padahal mereka masih mempunyai jalan panjang untuk mengejar mimpi-mimpinya demi masa depan.

Apakah semangat kekanak-kanakan mereka untuk berkembang akan sirna di tengah jalan yang buntu dalam situasi seperti itu?

Namun untuk saat ini, beruntunglah anak-anak di huta Lontung-Pulo Samosir yang telah memiliki fasilitas perpustakaan sederhana di sebuah “Sopo Belajar Lontung” yang menyediakan buku-buku untuk mereka baca secara gratis. Sopo Belajar Lontung ini menjadi tempat anak-anak untuk belajar, membaca dan juga bermain. Didukung dengan adanya kegiatan-kegiatan Sopo Belajar Lontung setiap harinya, dan dengan adanya “Kreta Baca” bagi anak-anak Samosir yang tempat tinggalnya masih terbilang jauh dari Sopo Belajar tersebut. Semua itu dilakukan dengan harapan anak-anak Samosir tidak lagi tertinggal jauh akan perkembangan Iptek dengan teman-temannya yang tinggal di kota. Setelah Sopo belajar ini didirikan oleh ALUSI TaoToba, anak-anak yang tinggal di huta Lontung menyempatkan diri datang ke Sopo Belajar untuk membaca sebelum mereka pergi ke sawah ataupun ke ladang, walau terkadang dimarahi oleh orangtua mereka karena kelamaan di Sopo Belajar.
Dengan demikian, secara perlahan anak-anak Samosir akan terbiasa berhadapan dengan buku-buku, baik itu cerita anak, ensiklopedi anak atau buku-buku lainnya yang dapat dimengerti oleh mereka. Sehingga dengan membaca, anak-anak Samosir akan semakin mengetahui pentingnya pendidikan itu. Dengan adanya Sopo Belajar Lontung ini menjadi penghubung secara perlahan-lahan bagi anak-anak Samosir agar lebih mampu berkembang mencapai masa depan mereka yang cerah.
**

Kisah tentang perjalanan Sopo Belajar Lontung ini telah didokumentasikan dalam sebuah film dokumenter oleh  Andi Hutagalung, seorang film maker dari Kota Medan. Dan film yang diberi judul “Permata di tengah Danau” ini berhasil menduduki posisi sebagai karya film dokumenter terbaik film dokumenter unggulan, dan mendapat penghargaan khusus dari Dewan Juri Festival Film Dokumenter Bali 2012, di Sanur, pada Sabtu 04 Agustus lalu.
Film dokumenter “Permata di tengah Danau” ini berhasil menjadi yang terbaik setelah menyisihkan 11 nominasi film dari 20 judul karya para sineas film dokumenter, demikian diumumkan pada malam penganugerahan FFD di Sanur, Denpasar, ketika itu.

Film dokumenter terbaik yang dikerjakan selama hampir seminggu itu dinilai memenuhi unsur teknik, artistik, dan pesan utama yang mengisahkan mengenai keprihatinan dan kepedulian Togu Simorangkir, perantau yang mapan di Jakarta dan akhirnya kembali ke tanah Batak, untuk mendirikan sanggar belajar yang diberi nama "Sopo Belajar Lontung".

Sanggar itu kemudian berhasil meretas keterbatasan akses anak - anak desa terhadap informasi dan pengetahuan melalui buku - buku. Mereka diajak menyelaraskan diri dengan alam, didasari niat untuk melahirkan permata - permata yang berani bermimpi dan tak pernah surut.

**

(Ria Sitorus/berbagai sumber)

BATAK POS, Sabtu 24 November 2012