Sabtu, 22 September 2012
Kamis, 13 September 2012
Permata di Tengah Danau (18:59), by Andi Hutagalung (Medan), 26 Sept @16:30, Theater & 29 Sept @09:30, Theater
oleh Sbm Golden Lens pada 13 September 2012 pukul 15:57 ·
Jadwal SCREENING SBM GOLDEN LENS 2012 * 1 dari 10 karya KATEGORI UMUM terpilih * Festival: 25 - 29 Sept @ Erasmus Huis.
Permata di Tengah Danau (18:59), by Andi Hutagalung (Medan)
Berawal dari kegelisahan sebagai perantau, Togu Simorangkir meninggalkan kemapanan di Jakarta, kembali ke Tanah Batak. Di sebuah desa di Pulau Samosir ia mendirikan sanggar belajar yang diberi nama Sopo Belajar. Sopo Belajar meretas keterbatasan akses anak-anak desa atas informasi dan pengetahuan. Meski tantangan datang silih berganti, niat untuk melahirkan permata-permata yang berani bermimpi tak pernah surut.
26 September, 16:30, Theater
29 September, 09:30, Theater

Permata di Tengah Danau (18:59), by Andi Hutagalung (Medan)
Berawal dari kegelisahan sebagai perantau, Togu Simorangkir meninggalkan kemapanan di Jakarta, kembali ke Tanah Batak. Di sebuah desa di Pulau Samosir ia mendirikan sanggar belajar yang diberi nama Sopo Belajar. Sopo Belajar meretas keterbatasan akses anak-anak desa atas informasi dan pengetahuan. Meski tantangan datang silih berganti, niat untuk melahirkan permata-permata yang berani bermimpi tak pernah surut.
26 September, 16:30, Theater
29 September, 09:30, Theater

Permata di Tengah Danau (18:59)', by Andi Hutagalung
Senin, 03 September 2012
Rabu, 08 Agustus 2012
You are browsing the archive for Andi Hutagalung
Andi Hutagalung dari Medan Menangkan FFDB 2012
08/08/2012 in Anak Medan, Medan Talk
If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed. Thanks for visiting!
Ia menyisihkan lima nominasi terbaik. Empat lainnya adalah, Leng Apa
Jengger (Jawa Tengah), Subak Pancoran (Bali), Made Taro Benteng Terakhir
Permainan Traditional Bali (Bali), dan Burdah (Bali). Sementara
Bli-Heaven on Earth dari Surabaya, mendapatkan penghargaan tertinggi
penggunaan olah teknik.
“Kami bangga karya anak muda mulai mengerti arti film dokumenter,”
kata Ketua Dewan Juri, Slamet Rhardjo, pada penyerahan di Sanur Beach
Hotel, Denpasar, Sabtu (4/8/2012) malam ini. Penghargaan diberikan oleh
Wakil Wali Kota Denpasar, IGN Jayanegara.
Pemenang mendapatkan tropi dan uang tunai Rp 20 juta. Pemenang
menyisihkan 20 pendaftar dan 11 film terbaik, sebelum nominasi lima
besar. (Kompas.com)
Sabtu, 04 Agustus 2012
Peserta Dari Medan Menangkan FFDB 2012
DENPASAR, KOMPAS.com -
Dewan juri Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2012 menetapkan film Permata Tengah
Danau karya Andi Hutagalung dari Medan (Sumatera Utara), sebagai pemenang
terbaik.
Ia menyisihkan lima
nominasi terbaik. Empat lainnya adalah, Leng Apa Jengger (Jawa Tengah), Subak
Pancoran (Bali), Made Taro Benteng Terakhir Permainan Traditional Bali (Bali),
dan Burdah (Bali). Sementara Bli-Heaven on Earth dari Surabaya, mendapatkan
penghargaan tertinggi penggunaan olah teknik.
Film dokumenter "Permata di Tengah Danau" jadi terbaik di FFD 2012
Sabtu, 4 Agustus 2012 23:46 WIB
Film "Permata Di Tengah Danau" karya Andi
Hutagalung (Antarsumsel.com/Youtube.com)
Denpasar (ANTARA sumsel) - Film "Permata Ditengah Danau" karya Andi Hutagalung terpilih menjadi yang terbaik dalam Festival Film Dokumenter (FFD) Bali 2012 yang diumumkan dalam penganugrahan di Sanur, Denpasar, Sabtu.
Film Dokumenter itu berhasil menjadi yang terbaik setelah menyisihkan 11 nominasi film dari 20 judul karya para sineas film dokumenter.
"Sebelas film itu sudah menjadi pemenang, lalu dipilih lima judul dinominasikan menjadi unggulan, sedangkan hanya satu yang diputuskan menjadi terbaik berarti itu Ida Sang Hyang Widhi merangkulnya," kata Slamet Rahardjo Djarot, Ketua Dewan Juri FFD Bali 2012.
Film dokumenter terbaik yang dikerjakan selama hampir seminggu itu dinilai memenuhi unsur teknik, artistik dan pesan utama yang mengisahkan mengenai keprihatinan Togu Simorangkir, perantau yang mapan di Jakarta dan akhirnya kembali ke tanah Batak, untuk mendirikan sanggar belajar yang diberi nama "Sopo Belajar".
Sanggar itu kemudian berhasil meretas keterbatasan akses anak-anak desa terhadap informasi dan pengetahuan melalui buku-buku, sehingga mereka diajak menyelaraskan diri dengan alam, dengan niat untuk melahirkan permata - permata yang berani yang tak pernah surut.
Dewan juri juga memilih empat film dokumenter yang menjadi unggulan di antaranya "Leng Apa Jengger" produksi Lacimplung dari kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah karya Bowo Leksono, "Subak Pancoran-Sinar kecil Di Kaki Bukit" produksi Komunitas Film Buleleng, karya Putu Satria Kusuma, "Made Taro Benteng.
Terakhir Permainan Tradisional Bali produksi Raturu Production karya Sigit Purwono, dan "Burdah" produksi Sunari Studio Karangasem karya I Komang Sukayasa.
Selain film terbaik dan film unggulan, FFD juga memberikan penghargaan khusus bagi film dokumenter dengan intensitas tinggi pada rekayasa olah teknologi yang jatuh kepada film berjudul "Bali-Heaven on Earth", karya Ivander Aditya produksi Light Wave Production Surabaya.
Untuk film terbaik mendapat hadiah berupa uang sebesar Rp 20 juta, sementara film unggulan dan penghargaan khusus masing-masing mendapatkan uang sebesar Rp 3,5 juta.
Dewan Juri yang terdiri dari Slamet Rahardjo Djarot, Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof. I Made Bandem, dan IGP Wiranegara memberikan catatan bahwa sineas dituntut harus bekerja ekstra dalam mengeksplorasi masalah dalam film yang dinilai masih kurang.
Meskipun demikian dalam festival tahun ini dewan juri menemukan adanya peningkatan pemahaman dasar arti film dokumenter yang lebih menekankan esensi dan bukan menyangkut sensasi, dibandingkan tahun sebelumnya yang cenderung berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu.
Mengenai sudut Pandang, lanjut Djarot, pembuatan film itu telah mengarah kepada nilai masyarakat yang digambarkan jujur dan apa adanya.
Dia mengatakan bahwa sudah ada pengembangan bentuk yang lebih berani dalam penalaran dramatisasi penggambaran.
(ANT/PSO-330/Z003)
Editor: Awi
COPYRIGHT @ 2013
Kamis, 02 Agustus 2012
Ini 10 Karya Terbaik Festival Film Dokumenter Bali 2012
Setelah melalui proses kuratorial, Festival Film Dokumenter Bali (FFDB)
akhirnya memilih 10 karya terbaik yang akan dinilai oleh Dewan Juri. “Mereka
berasal dari Bali dan luar Bali,” ujar Ketua Panitia, Agung Bawantara, Ahad, 22
Juli 2012.
Selanjutnya, sepuluh karya tersebut akan dinilai oleh Dewan Juri yang
terdiri dari Dr. Lawrence Blair, Slamet Rahardjo Djarot, Prof. Dr. I Made
Bandem, Rio Helmy, dan IGP Wiranegara. Dari penilaian tersebut para juri akan
memilih lima kandidat yang satu di antaranya akan dinobatkan sebagai Film
Terbaik FFDB 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)

